16 Desember 2018

Mengunjungi Desa Kadugenep, Sentra Pembuatan Tas di Serang

Ingat tas, ingat Kampung Kadugenep, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang. Di kampung itulah berbagai tas diproduksi di rumah-rumah warga. Bahkan, ada tas produksi mereka diekspor ke mancanegara.

ADI MULYADI – SERANG

Sabtu (22/9) pukul 11.00 WIB, mendung menggelantung di Kampung Kadugenep, Desa Kadugenep, Kecamatan Petir, Kabupaten Serang. Tidak sulit menuju kampung ini. Dari jalan utama Petir-Tunjungteja, kira-kira untuk sampai ke lokasi kurang lebih jauhnya satu kilometer.

Jalan menuju ke kampung itu sudah mulus, di-hotmix dengan lebar 3,5 meter milik Pemerintah Desa Kubangjaya yang menjadi penghubung ke Desa Kadugenep. Tepat di pertigaan terlihat gapura besar bertuliskan ‘Selamat Datang di Desa Kadugenep Sentra Pembuatan Tas’.

Saat Radar Banten tiba, disambut hangat oleh para pelaku home industry yang merintis usaha sejak 1997 ini. Para pekerja dengan lincah menjahit satu per satu kepingan tas, sebelum akhirnya disatukan menjadi sebuah tas.

Udin Haerudin, kepala produksi tas, mengatakan bahwa pembuatan tas tidak berbeda jauh dengan proses pembuatan kaus. Hanya saja pembuatannya sedikit lebih rumit. “Kalau kaus pembuatannya gitu-gitu saja, kalau tas tidak,” ujarnya.

Kata dia, setiap orang penjahit memegang satu potongan komponen tas yang akan dijahit. Sampai akhirnya komponen tas itu disatukan dan menjadi sebuah tas yang unik. “Itu masing-masing orang memegang komponen. Nanti pas akhir komponen itu disatukan,” kata Udin yang membawahi 30 penjahit itu.

Mengenai upah penjahit, ia menjelaskan, upah tergantung tingkat kerumitannya. Semakin rumit maka harga yang dibayarkan semakin mahal. Harga termahal yang pernah dibayarkan kepada penjahit untuk upah menjahit Rp15 ribu. “Nanti kan itu dibagi untuk menjadikan sebuah tas ada berapa orang. Misalkan, komponen tas ada tujuh, nah Rp15 ribu itu dibagi tujuh,” katanya.

“Kalau untuk produksi tas setiap minggu bisa mencapai 1.000 buah tas. Itu tergantung tingkat kerumitannya juga,” imbuhnya. Untuk bahan baku tas dikirim dari Tangerang dan Jakarta.

Mayoritas warga Kampung Kadugenep membuka usaha pembuatan tas di rumah masing-masing. Mereka terus memproduksi tas untuk dipasarkan di toko-toko.

Salah satu pelopor home industry tas di kampung ini adalah Rohman. Rohman yang saat ini menjabat sebagai kepala desa mengatakan, luas Desa Kadugenep 529 hektare dengan jumlah kepala keluarga (KK) 1.750 orang. Desa Kadugenep terdiri atas 17 RT dan empat RW terdiri atas empat kampung, di antaranya Kampung Kadugenep Kidul, Kadugenep Kaung, Kadugenep Pasir, dan Kadugenep Sabrang. “Warga yang murni memproduksi tas, yakni Kampung Kadugenep Pasir dan Kadugenep Sabrang,” ujarnya.

Rohman menceritakan, awalnya kebanyakan warga Desa Kadugenep bekerja di Jakarta bukan sebagai buruh pabrik melainkan sebagai penjahit konveksi tas, kaus, dan baju. “Kurang lebih 80 persen warga yang merantau ke ibukota sebagai konveksi,” katanya kepada Radar Banten di kediamannya.

Rohman menceritakan, dirinya juga termasuk yang merantau ke Jakarta bersama dengan kakak dan adiknya, Ibra dan Madun. Lama-kelamaan Rohman jenuh dan akhirnya pulang kampung pada 1997. Pada tahun itu juga, Rohman dan kakak adiknya itu memutuskan untuk membuka konveksi tas di kampung halamannya. Sementara, rekannya yang lain masih tetap di Jakarta untuk melanjutkan hidup. “Memberi materi pada warga Kadugenep enggak mungkin, jadi saya bawa program dan memberikan ke warga,” cerita Rohman.

Awal buka konveksi pada 1997, Rohman bersama kakak dan adiknya itu mengirimkan hasil produksi itu ke toko-toko tas yang ada di wilayah Provinsi Banten seperti Rangkasbitung, Pandeglang, Serang, dan Lebak. Berselang satu tahun, tepatnya pertengahan 1998 terjadi krisis moneter. Perusahaan konveksi yang ada di Jakarta banyak yang gulung tikar. Namun, perusahaan kecil seperti dirinya saat itu masih bertahan. Saat itu para perantau warga Desa Kadugenep pun otomatis pulang ke tempat kelahirannya karena banyak konveksi di Jakarta yang bangkrut. “Itu kesempatan besar bagi saya, adik, dan kakak saya untuk memperbesar usaha, merekrut warga yang pulang kampung. Hal itu juga mengurangi pengangguran di kampung,” ujarnya.

Berselang satu tahun. Tepatnya pada 1999 ia bersama kakak dan adiknya mendapatkan kerja sama kontrak di beberapa negara seperti Korea, Singapura, Vietnam, dan Arab Saudi untuk memproduksi tas. Namun, kerja sama itu hanya sampai 2002 saja. Keempat negara itu memutus kontraknya. “Mesti habis kontrak. Kami terus produksi dan mengirimkan hasil produksi ke berbagai toko,” katanya.

Berjalannya waktu, Rohman akhirnya membebaskan kepada warga yang bekerja di konveksinya untuk membuka usaha masing-masing di setiap rumah. “Awalnya usaha keluarga. Sekarang mah sudah merambah ke setiap rumah di Kampung Kadugenep, bahkan ke desa tetangga,” tukasnya.

Order tas saat ini hanya mengandalkan dari pesanan-pesanan instansi dinas, toko, perorangan, dan perusahaan karena saat ini persaingan ekspor produk tas sangat ketat. Produk tas warga Desa Kadugenep harus bersaing dengan produk pabrikan yang menggunakan mesin canggih. “Alat-alat produksi kita masih manual,” ucapnya.

Meski masih manual, kualitas tas warga Desa Kadugenep masih bisa bersaing dengan produk tas dari daerah lainnya. “Di Indonesia kita masih bisa bersaing dengan yang lain. Kalau dibandingkan dengan produk luar negeri, kami masih kalah dari sisi harga,” katanya.

Warga Desa Kadugenep yang memiliki home industry tas di rumahnya itu tidak mau mengambil risiko dengan kerugian besar saat produksi. Kebanyakan warga setempat memproduksi tas menggunakan sistem cut, make, and trim (CMT) atau hanya mengambil keuntungan dari jasa produksi saja. “Selain itu, kami enggak punya modal buat produksi,” kata Saepul, penjahit lainnya.

Ia mengungkapkan, di Desa Kadugenep tidak hanya remaja dan orangtua yang bisa menjahit, anak-anak yang berusia 12 tahun pun sudah bisa menjahit. “Upahnya untuk biaya sekolah,” tukasnya. (*)