21 September 2018

Lulusan BBPLK Serang Dinilai Menaker Miliki Kualitas Baik

Sebaran tenaga kerja di dunia industri menjadi salah satu kendala dalam pemerataan serapan. Sehingga, hal itu menyebabkan terjadinya kesenjangan kemiskinan yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Demikian diungkapkan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Muhammad Hanif Dhakiri usai memberikan sertifikat kompetensi kepada 375 orang peserta program pelatihan berbasis kompetensi (PBK) gelombang I di Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Serang, Karundang, Cipocokjaya, Kota Serang, Senin (2/4).

Pria yang akrab disapa Hanif itu menjelaskan, sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penentu agar masyarakat terangkat dari kemiskinan. Pertama, berkaitan dengan kualitas, kuantitas, dan persebaran. “Ada banyak orang pintar di Indonesia, tapi jumlahnya sedikit. Belum lagi persebarannya sejauh mana. Itulah yang menekan Kemenaker terus meningkatkan kompetensi para lulusan peserta latihan,” ujarnya.

Menteri kelahiran Semarang 1972 itu mengaku, berani menjamin teknisi industri lulusan BBPLK Serang kualitasnya setara bahkan lebih baik daripada lulusan diploma tiga (D-3) perguruan tinggi. Ia bahkan menantang perusahaan untuk menguji langsung kompetensi para lulusan teknisi industri yang dilatih di BBPLK Serang. “Saya bisa katakan, teman-teman jurusan teknisi industri lulusan BLK Serang kualitasnya tidak kalah, bahkan lebih baik dari lulusan D-3,” katanya.

Ia menjelaskan, program teknisi industri yang pelatihannya dilakukan selama dua tahun merupakan program unggulan di BBPLK Serang. Program tersebut salah satu yang sangat sesuai dengan kebutuhan industri sehingga lulusannya terserap 100 persen ke pasar kerja. “Ini dikarenakan, selama di BLK mereka dilatih dengan orientasi yang lebih banyak praktik dan disesuaikan dengan kebutuhan industri,” terangnya.

Oleh karena itu, politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu meminta kalangan industri untuk tidak memperlakukan lulusan teknisi industri seperti lulusan SMA biasa. Karena walaupun ijazahnya SMA atau SMK, tapi mereka memiliki sertifikat kompetensi. “Mereka ini anak-anak yang luar biasa. Jadi, tidak kalah jika dibandingkan dengan yang lulusan politeknik selama tiga tahun,” katanya.

Selain itu, mantan anggota Komisi X DPR RI itu mengatakan, 36 orang pengurus Forum Komunikasi Industri BBPLK Serang periode 2018-2021 yang baru dilantik agar merekrut tenaga kerja berdasarkan sertifikat kompetensi. “Saya minta kepada kalangan industri kalau ada lowongan kerja, syaratnya jangan hanya mencantumkan pendidikan formal tapi berikan juga syarat yang terkait dengan sertifikasi kompetensi atau sertifikasi profesi,” katanya.

Dengan begitu, kata dia, pencari kerja yang punya ijazah SMA, ijazahnya bisa dipakai mencari kerja, yang tidak punya ijazah SMA tapi punya sertifikat kompetensi juga bisa menggunakan sertifikat kompetensinya untuk melamar kerja. “Contoh ada lowongan pekerjaan tertentu syaratnya lulusan SMA sederajat atau memiliki sertifikasi kompetensi,” katanya.

“Perlu diketahui bahwa pelatihan kerja itu sangat penting. Pelatihan kerja itu juga keren. Jadi, bukan hanya sekolah yang keren, pelatihan kerja juga keren. Pelatihan kerja yang menjembatani kalian untuk bisa masuk ke pasar kerja atau memulai usaha,” sambung Hanif.

Selain itu, dengan mengikuti pelatihan kerja, peserta dilatih untuk memiliki kompetensi guna masuk ke pasar kerja dan kompetensi untuk menjadi wirausaha. Dengan begitu, ada dua ruang yang terbuka, pertama ruang masuk ke dunia kerja dan kedua ruang menjadi wirausaha mandiri menciptakan pekerjaan bagi orang lain.

“Ingin kerja harus punya kompetensi, ingin usaha juga harus punya kompetensi,” katanya.

Di sela-sela sambutan, Kepala BBPLK Serang Fauziah mengatakan, saat ini BBPLK Serang memiliki dua kejuruan, yaitu kejuruan las dan kejuruan listrik. Ia menyebutkan, hingga Maret 2018, pelatihan berbasis kompetensi (PBK) sudah mencapai 400 siswa. “Jika dilihat ke belakang selama tahun 2016, terdapat 995 orang dengan jumlah lulusan 532 orang. Sementara untuk tahun 2017 sebanyak 375 dinyatakan lulus,” katanya.

Ia menjelaskan, BBPLK Serang telah ditetapkan sebagai salah satu dari lima balai besar yang melaksanakan program 3R (reorientasi, revitalisasi, dan rebranding) di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan RI. “Program reorientasi di BBPLK Serang dilakukan dengan menetapkan kejuruan unggulan di BBPLK Serang, yaitu kejuruan las dan kejuruan listrik,” jelasnya.

Kata dia, hal itu dilakukan agar BBPLK Serang dapat lebih fokus dalam pengembangan dan masif dalam melaksanakan pelatihan untuk kejuruan las dan kejuruan listrik yang dibutuhkan dunia kerja. Ia juga berharap, dalam rangka meningkatkan kompetensi skill angkatan kerja diperlukan kolaborasi dengan sejumlah instansi. “Harus ada kerja sama kolaboratif antara instansi terkait,” pungkasnya. (Fauzan D/RBG)